| 0 comments ]

Penulis artikel ini merupakan adik kepada alFaisal. Menuntut di Universiti Islam Antarabangsa mengambil jurusan ekonomi.



Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan-Nya dan kami memohon keampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari keburukan perbuatan kami. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiadalah kesesatan baginya dan sesiapa yang disesatkan oleh Allah maka tiadalah petunjuk baginya. Kami bersaksi bahawa tiada tuhan kecuali Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan kami bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Alhamdulillah,selesai sudah semester pendek saya harungi dan kedua-dua mata pelajaran yakni Usul Fiqh dan History of Islamic Economic Thought yang diambil banyak memberi pengetahuan dan input baru.Apa yang ingin saya kongsikan pada kali ini ialah berkenaan kajian yang dapat saya lakukan sepanjang tempoh semester pendek berkenaan seorang tokoh yang dikatakan wali.Sememangnya pada awalnya tidak berminat untuk mengkaji tentangnya tetapi lama-kelamaan setelah meminjam segala bahan yang dikehendaki dari perpustakaan maka timbul minat untuk mengkaji tokoh ini dengan serius.Alhamdulillah saya berjaya menarik perhatian rakan-rakan dalam pembentangan setelah bertungkus lumus sepanjang semester mengkaji tentang tokoh tersebut.Dan kegembiraan yang jelas ialah apabila pertanyaan tentang tokoh ini termasuk dalam salah satu soalan peperiksaan akhir.

Shah Wali Allah

Tokoh yang saya maksudkan ialah Qutb al-Din Ahmad ibn 'Abd al-Rahim atau lebih dikenali sebagai Shah Wali Allah seorang ulama’ yang lahir pada 1114 AH/ 1703AD di Pulh sebuah daerah di wilayah Delhi di India.Pada awal pembacaan buku Life of Shah Waliyullah karangan G.N Jalbani yang sememangnya antara rujukan popular tentang tokoh ini,sememangnya saya agak terkejut tentang banyak perkara-perkara ajaib yang dikaitkan dengan tokoh ini sebelum,semasa dan sesudah kelahiran beliau yang kadang-kala sukar diterima aqal rasional. Shah Wali Allah yang merupakan seorang tokoh sufi seperti Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani atau Rabiatul Adawiah yang terkenal dengan karomah dan keajaiban mereka tidak terlepas dari cerita-cerita mistik.Jika ada tokoh sufi yang dikatakan mampu berjalan di atas air atau menukar daun menjadikan wang dan sebagainya,kisah Shah Wali Allah juga menarik perhatian saya. Antaranya ialah tangan yang muncul entah dari mana yang turut berdoa sama semasa Shah 'Abd al-Rahim (ayah kepada Shah Wali Allah) solat tahajud bersama isterinya,malah bagaimana bintang berada dalam posisi yang sempurna mengikut kajian ahli falak semasa kelahiran beliau,dan bagaimana perasaan datuknya Shah Wajihudhin yang terasa seperti hampir dengan Allah dan imannya seolah-olah naik mendadak semasa mendukungnya ketika beliau masih bayi.Ada juga kisah berkenaan mimpi Shah Wali Allah berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika hijrah beliau ke Haramian.



Kesahihan cerita-cerita di atas ada terselit dalam kitab-kitab beliau seperti Anfas al-Arifin,At-Tafhimat al-Ilahiyah, Hujjat Allah al-Baligha, Al-Budur al-Bazigha dan sebagainya. Fokus pembelajaran kami bukanlah berkenaan perkara-perkara mistik yang berlaku sepanjang hidup beliau tetapi lebih memberi focus kepada sumbangan beliau kepada bidang ekonomi.Sememangnya beliau yang digelar mujaddid pada zamannya mempunyai banyak sumbangan bukan sahaja dalam bidang Quran dan Sunnah malah tidak ketinggalan bidang-bidang lain seperti philosophy,methodology pembelajaran,sejarah,algebra,matematik dan semestinya yang menjadi focus utama pembelajaran iaitu socio ekonomi.


Maka artikel kali ini bukan ingin mengfokus kepada sumbangan beliau tetapi berkenaan gelaran wali yang disandangnya.Wali Allah adalah gelaran yang diberi oleh ayahnya,Shah 'Abd al-Rahim.Inilah tumpuan dan topik perbincangan artikel kali ini yang bermain di fikiran saya pada awal-awal pengkajian.Apakah tokoh yang dibesarkan oleh persekitaraan sufi ini layak digelar wali?beliau yang berbai’ah dengan ayahnya semasa 15 tahun untuk bersama-sama dengan golongan Naqsabandi ini digelar wali Allah?

Dibesarkan di dalam masyarakat Melayu khususnya, diri saya tidak terlepas dari mendengar beberapa salah tanggapan orang tentang kedudukan seorang wali Allah yang dikatakan Maksum (terbebas) dari segala kesalahan,tidak kurang juga anggapan orang bahawa wali itu mesti mempunyai karomah atau keajaban tersendiri.Bukanlah saya ingin menafikan apa-apa karamah yang mungkin berlaku dengan izin Allah tetapi jika sesorang itu dinilai melalui karomahnya maka para sahabat hatta Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri tidak setaraf dengan karomah mereka.Ini kerana para sahabat yang merupakan orang terdepan dalam barisan para wali tidak memiliki karomah. Begitu pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba yang paling mulia disisi Allah waktu berhijrah beliau menaiki unta bukan mengendarai angin, begitu pula dalam perperangan beliau memakai baju besi bahkan pernah cedera pada waktu perang Uhud. Karomah bukanlah sebagai syarat mutlak bagi seorang wali. Karomah diberikan Allah kepada seseorang boleh jadi sebagai cubaan dan ujian baginya, atau untuk menambah keyakinannya kepada ajaran Allah, atau pertolongan dari Alloh terhadap orang tersebut dalam kesulitan. Maka tidak hairanlah jika para ulama salaf bila mereka mendapat karomah justru mereka bersedih dan tidak merasa bangga karena mereka takut bila hal tersebut adalah istidraaj (tipuan). Begitu pula mereka takut bila di akhirat kelak tidak lagi menerima balasan amalan mereka setelah mereka menerima waktu didunia dalam bentuk karomah. Begitu pula bila mereka di beri karomah, mereka justru menyembunyikannya bukan memamerkannya atau berbagga diri dihadapan orang lain.
Siapa itu Wali?

Wali dalam konteks sebagai pelaku (fa’il) memiliki makna an-Nashir/Penolong
[Fathul Bayan fi Maqasidil Qur’an, 2/101, Abu Thayib al-Bukhari). ]

Al-wali juga memiliki arti al muhibb (yang mencintai), ash-shadiq (teman/rekan), serta an-nashiir (pembela/pendukung)
[Tartib qamus al-muhith IV/685, ath-Thahir Ali az-Zawi]

Seseorang dikatakan sebagai wali terhadap yang lainnya dikarenakan kedekatannya, keta’atannya dan karena selalu mengikutinya. Secara terminologi menurut pengertian sebahagian ulama ahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi bukan nabi. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi, yang paling utama diantara para nabi adalah para rasul, yang paling utama diantara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama diantara Ulul ‘azmi adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka para wali Allah tersebut memiliki perberbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan Mereka dengan Allah.

Wali Allah ini terbahagi kepada dua kategori yakni:-

Golongan Pertama:

Assaabiquun Almuqarrabuun (barisan terdepan dari orang-orang yang dekat dengan Allah). Yaitu mereka yang melakukan hal-hal yang mandub (sunnah) serta menjauhi hal-hal yang makruh disamping melakukan hal-hal yang wajib. Sebagaimana lanjutan hadits: “Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.

Golongan Kedua:

Ashaabulyamiin (golongan kanan). Yaitu mereka hanya cukup dengan melaksanakan hal-hal yang wajib saja serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, tanpa melakukan hal-hal yang mandub atau menjauhi hal-hal yang makruh.

Ciri-ciri Wali Allah Vs. Wali Syaitan

Allah SWT telahpun menyebutkan ciri para waliNya dalam firmannya,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. [Yunus 10:62-63]

Oleh itu jelas dari ayat di atas bahawa wali Allah hendaklah seorang yang beriman dan bertakwa, mencintai sesuatu yang dicintai Allah dan membenci sesuatu yang dibenci Allah, memihak kepada sesama mukmin dan memusuhi orang kafir, senantiasa mengikuti syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , lahir dan batin, berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, selalu bertaubat, memohon ampun dan mengingat Allah, selalu menyadari akan kelemahan, kekurangan dan kekhilafannya, sabar, berserah diri kepada Allah, Redha dan bersyukur Kepada-Nya, dan juga memahami hakikat segala sesuatu.

Maka dapat kita bezakan jelas bahawa orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tetap ada sampai hari kiamat bahwa Muhammad shalAllohu ‘alaihi wa sallam bukan penutup segala rasul dan nabi.

Golongan di atas ini bukanlah wali Allah tetapi wali syaitan kerana pemahaman yang menyesatkan ini amatlah berbahaya.Mereka membawa orang berpaling dari Al-Qur’an, mengingkari dan kufur kepadanya sehingga mereka dikeluarkan oleh syetan dari kebenaran menuju kebodohan, kesesatan dan kekafiran.Merekalah orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah dan melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk shalat maupun zikir, dan lain-lain.

مَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.[Az Zukhruf 43:36]

Perjuangan Shah Wali Allah

Maka jika kita kembali mengkaji dan menilai perjuangan Shah Wali Allah,beliau seorang yang ‘alim dan seorang mujaddid yang berpengaruh.Walaupun pada awal hidupnya beliau banyak terpengaruh dengan golongan Naqshabandi,beliau dilihat banyak berubah setelah berhijrah ke Haramain.Seorang mujaddid yang mengubah pemikirannya terlebih dahulu sebelum mempengaruhi pemikiran masyarakat pada masa itu sehingga tempiasnya terkena pada ulama’-ulama selepasnya.Perjuangannya yang jelas mengajak kepada perpaduan dan penghapusan bid’ah serta mengharungi cabaran pada masa itu dengan memihak kepada mereka yang ditindas dengan melakukan pembersihan jiwa berdasarkan parameter yang telah ditetapkan oleh Quran dan Sunnah.

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَإِنَّ أَفْضَلَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sebaik-baik petunjuk ialah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk ialah Sunnah,dan sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan(bid’ah) dan setiap bid’ah itu sesat” [Hadith diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim,Kitab Al-Jama’ah,hadith no.867]

Shah Wali Allah dalam kitabnya Hujjat Allah al-Baligha jilid pertama muka surat ke 10 dan juga buku Life of Shah Waliyullah karangan G.N Jalbani muka surat 28 menunjukkan satu kisah menarik dalam usaha beliau melakukan tajdid dalam diri beliau yakni beliau menyatakan pendirian beliau dalam memegang dalil dan sanad yang lebih rajah (kuat) dalam ibadahnya walaupun keluarganya memilih pandangan mazhab Hanafi.Ini adalah kerana beliau tidak setuju kepada ikut buta tanpa memahami dalil atau hujah di sebalik sesuatu ibadah itu.Ini disebabkan oleh pandangannya yang beranggapan bahawa ikut (taklid) buta itu hanyalah untuk orang awam. Semangat juang Shah Wali Allah seharusnya dijadikan contoh oleh mereka yang memperjuangkan pemikiran tajdid masa ini kerana menurut Shah Wali Allah dalam keadaan masyarakat yang rosak maka tajdid itu perlu dan perjuangan tajdid yang menyeru kepada kembalinya masyarakat terhadap Quran dan Sunnah merupakan satu usaha yang mencabar.Maka disinilah perlunya pengorbanan dalam perjuangan dan pengorbanan ini boleh dilakukan oleh mereka yang berkeyakinan terhadap diri sendiri,ikhlas dan mampu menghadapi situasi dengan tenang dan sabar.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Al-Fushilat 41:35]

Wallahua’lam.

Ibn Yusof
13 June 2007/ 27 Jamadil Awwal 1428
5.21a.m
http://ibnyusof.blogspot.com/


Baca selebihnya...
| 0 comments ]

Telah dikehadapankan kepada saya satu cerita:

Rabi'atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan."

Dalam cerita tersebut menceritakan bahawa persona kisah itu, Rabi’at al-Adawiyah, dikatakan begitu mencintai Allah sehingga tidak ada ruang lagi dalam hatinya bagi mencintai Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam. Ianya menimbulkan tanda tanya kepada saya yang percaya bahawa cinta pada Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam adalah wajib dan merupakan tanda kesempurnaan dam kemanisan iman. Saya tidak berminat memberi komentar ke atas cerita tersebut kerana kesahihannya sendiri tidak diketahui. Seperti yang telah jelas, Rabi’at al-Adawiyah adalah antara ikon aliran Sufism. Sebagaimana Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau telah menerima nasib yang sama dimana kisah-kisahnmya telah banyak ditokok tambah atau direka-reka sehingga sukar membezakan yang mana benar dan yang mana khayalan. Kegersangan disiplin ilmu golongan yang begitu ta’asub kepada ikon-ikon tersebut menyebabkan mereka terima dan sebar apa sahaja kisah tanpa meneliti secara ilmiah ianya benar atau tidak.

Apa yang ingin saya kupas adalah berkenaan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Agak membimbangkan apabila membaca komentar-komentar di sebuah forum siber mempertahankan kisah diatas bahawa bagi manusia di tahap-tahap tertentu (maqam-maqam wali) tidak perlu lagi cinta kepada Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasslam. Nas-nas menyuruh menyintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan hanya ditujukan untuk orang awam yang belum mantap imannya, yang solat lima waktu pun belum cukup. Ini bukanlah kata-kata yang senada dengan al-Quran dan as-Sunnah. Saya berharap yang berkata itu tidak sengaja mengeluarkan pendapatnya di dalam kekeliruan dan berharap ia insaf, moga Allah Subhana wa Ta’ala mengampuni kesilapan itu.



CINTA KEPADA RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah insan yang terpilih menjadi utusan kepada risalah yang menyelamatkan umat manusia. Beliau dikasihi Allah Subhana wa Ta’ala dan Allah Subhana wa Ta’ala telah menjadikan beliau Rakan Karib-Nya. Ini disebut di dalam sebuah hadis, Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فإن الله تعالى قد اتخذني خليلا، كما اتخذ إبراهيم خليلا

Sesungguhnya Allah telah mengambilku sebagai Rakan Karib-Nya sebagaimana mana Nabi Ibrahim Rakan Karibnya. [Sahih Muslim – no:532]

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

النبي صلى الله عليه وسلم حبيب الله لا شك فهو حاب لله ومحبوب لله ، ولكن هناك وصف أعلى من ذلك وهو خليل لله ، فالرسول صلى الله عليه وسلم خليل الله كما قال صلى الله عليه وسلم : " إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً " رواه مسلم ( 532 ) . والخلة هي كمال المحبة

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak syak lagi adalah kekasih Allah, dia mencintai Allah dan Allah mencintainya. Akan tetapi disana ada diskripsi yang lebih tinggi daripada itu iaitu Khalillullah (Rakan Karib Allah), maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Khalillullah sebagaimana sabda baginda shalallahu ‘alaihi wasallam :'Sesungguhnya Allah telah mengambilku sebagai Rakan Karibnya sebagaimana mana Nabi Ibrahim Rakan Karibnya’ (Riwayat Muslim no: 532). Rakan Karib adalah lebih sempurna dari kekasih [Majmu' Fatawa Ibn Utsaimin, 1/319]

Adalah janggal seandainya seseorang mengaku mencintai Allah Subhana wa Ta’ala tetapi tidak mencintai Rakan Karib-Nya yang begitu dicintai-Nya. Firman Allah Subhana wa Ta’ala:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ

وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.[Ali Imran 3:31]

Orang yang mencintai Allah Tabaraka wa Ta’ala atau mendambakan kasih Allah Tabaraka wa Ta’ala, tidak kira siapa, dari semulia-mulia para Sahabat sehinggalah seburuk-buruk Muslim wajib mengikuti dan taat pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan antara suruhan baginda termasuklah untuk cinta kepadanya. Untuk seseorang itu mampu mencintai Allah Subhana wa Ta’ala dengan sebenar-benar cinta bermakna dia memerlukan kesempurnaan Iman. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga aku dicintai lebih daripada bapanya, anaknya dan manusia secara keseluruhannya. [Sahih al-Bukhari - no:15 dan Sahih Muslim - no:44]

Untuk menyintai Allah Subhana wa Ta’ala dengan sebenar-benar cinta juga merupakan kemanisan iman. Resipi bagi memperoleh kemanisan iman pula adalah seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، ومن أحب عبدا لا يحبه إلا لله، ومن يكره أن يعود في الكفر، بعد إذ أنقذه الله، كما يكره أن يلقى في النار

Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman (iaitu) Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai daripada selainnya (Allah dan Rasul), dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran (maksiat) sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api. [Sahih al-Bukhari - no:21 dan Sahih Muslim - no:43]

Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebahagian daripada cinta kepada Allah. Kerana bagi kita tidak ada seorangpun yang lebih kita percayai selain orang telah dipilih oleh Allah sebagai utusan-Nya. Beliau telah diamanahkan oleh Allah untuk menyampaikan hidayah-Nya kepada umat manusia agar kita mendapat rahmat-Nya. Bagindalah orang yang paling berjasa menyelamatkan kita daripada kegelapan (kekufuran dan syirik) kepada cahaya terang benderang (Islam dan hidayah). Bagindalah yang telah membimbing kita untuk menuju kebahagian hakiki di dunia dan di akhirat. [Ustaz Dr. Abdullah Yasin, Makalah: Hadith, 19 February 2006]

Tidak ada sesiapa terlepas daripada tuntutan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم، وهو آخذ بيد عمر بن الخطاب، فقال له عمر: يا رسول الله، لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (لا، والذي نفسي بيده، حتى أكون أحب إليك من نفسك).

فقال له عمر: فإنه الآن، والله، لأنت أحب إلي من نفسي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (الآن يا عمر).

Kami bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang saat itu sedang memegang tangan Umar bin al-Khattab. Umar berkata,

“Ya Rasulullah, engkau sungguh lebih aku cintai dari segala sesuatu selain diriku.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak, demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Umar berkata, “Sekarang engkau sungguh aku cintai dari diriku sendiri.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sekarang umar (barulah sempurna imanmu)”. [Sahih al-Bukhari – no:6257]

Kalau Umar al-Khattab radhiallahu ’anhu, antara para Sahabat utama, salah seorang daripada Khulafa ar-Rasyidin pun mencintai Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasul-Nya, apakah kita hendak mengatakan ada manusia di zaman terkemudian lebih baik daripada Umar radhiallahu ‘anh, mencintai Allah tanpa perlu cinta kepada Rasul-Nya? Generasi Sahabat merupakan generasi paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka diperakui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai generasi terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم

Sebaik baik manusia adalah yang hidup pada kurunku, kemudian yang mengikuti zaman mereka dan kemudian yang mengikuti zaman mereka. [Sahih al-Bukhari – no:3451]

Al-Abiy rahimahullah berkata:

Keutamaan para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah kerana kehadiran mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun hanya sekelip mata. Tiada siapa pun yang dapat menyamai amalan serta mencapai akan darjat mereka. Keutamaan mereka adalah sesuatu yang tidak dapat diukur (kerana keistimewaannya yang tiada tolok bandingan). Itulah kurniaan Allah ke atas sesiapa yang dikehendaki-Nya. [Syarh Sahih Muslim li al-Abiy, jld 6, ms. 362. Keterangan seperti diatas juga dikemukakan oleh an-Nawawi di dalam Syarh Sahih Muslimnya, jld 16, ms. 93. Kedua-dua mereka menukilnya daripada al-Qadhi ‘Iyadh.]

Kenyataan diatas dikuatkan dengan sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه

Jangan kamu mencaci para sahabatku! Sekiranya seorang dari kamu menafkahkan emas sebesar gunung Uhud sekalipun, tidak akan sama ganjaran yang dilakukan oleh mereka walau secupak mahupun setengah. [Sahih al-Bukhari – no:3470]

Mereka yang telah terjamin tempatnya di syurga, yang mempunyai martabat tertinggi pun mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah layak bagi manusia selepas itu yang tidak terjamin syurga baginya memilih untuk tidak mencintai baginda? Hari ini manusia lebih cenderung memuliakan fulan itu fulan ini tetapi tidak mengambil para Sahabat yang sememangnya jelas kemuliaan mereka sebagai contoh tauladan selepas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

JOM CINTA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Marilah kita mencintai Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Tidak mungkin lahir cinta kepada Allah Subhana wa Ta’ala tanpa cinta utuh kepada Rasul-Nya. Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tuntutan keatas semua mukmin tanpa pengecualian, berdasarkan nas-nas yang jelas. Berhati-hati dengan tipu daya syaitan. Syaitan tidak semestinya mengajak kepada perkara yang terang-terangan buruk, malah antara strateginya yang berjaya adalah mengkosmetikkan sesuatu keburukan itu agar nampak baik dan Islami hingga tertipulah mereka-mereka yang tidak melihat kepada firman-firman Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Moga kita dijauhi daripada pemikiran zindiq yang tidak berpaksikan nas-nas al-Quran dan as-Sunnah. Moga kita dapat bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tercinta bila tiba saatnya nanti. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anh:

قال رجل: يا رسول الله! متى الساعة؟ قال "وما أعددت لها؟" فلم يذكر كبيرا. قال: ولكني أحب الله ورسوله. قال "فأنت مع من أحببت".

Seorang lelaki bertanya, “Bilakah berlakunya Kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah persediaan kamu untuk menghadapinya?” Lelaki itu menjawab, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu akan tetap bersama orang yang kamu cintai.” [Sahih Muslim – no:2639]


Wallahua’lam

alFaisal
Keramat
4 Jun 2007 / 18 Jumada Awwal 1428
3.41 pm


Baca selebihnya...